[this blog is not mine]

…a place to remember the face of you, the face of silent

perfect rain.. April 14, 2008

Filed under: giestha days,on hope,on nothing,on writing — giestha @ 9:18 pm

dalam hujan aku bisa berdamai..
Hujan bisa meluruhkan kelam yang merajai hati, memadamkan api yang memberangus hitam asa, menjernihkan air yang mengeruh di sudut jiwa,
Aku gadis hujan, pencinta hujan. [giesthacorner]

Iyah, pernah terjadi satu titik saat diri ini merasa menjadi gadis hujan, pencinta hujan. Setiap saat selalu berharap hujan turun, hujan hunter, peminta-minta hujan.

Setiap saat menengadah melihat langit berharap ada awan hitam membawa kabar gembira hujan kan datang.

Tapi itu dulu, empat tahunan yang lalu. Sekarang, yang tersisa hanyalah penikmat hujan. Walau akhir akhir ini hujan tidak lagi seperti dulu, menakutkan, banjir, dan longsor. Iyah, hujan tidak lagi seromantis dulu.

Hujan itu indah, memang indah. Apalagi saat berada di ketinggian gunung tangkuban perahu saat itu, indah. Sempurna. Atau saat berada di lantai atas gedung lab bahasa di sebuah kampus itu. Selembut serunai, menggelitik wajah ini seolah memaksaku untuk tersenyum, daun daun berjatuhan, bunga-entah-apa-namanya-violet-warnanya pun ikut menemani dedaunan seolah tak mau kalah ingin menyambut sang hujan. Indah. Sempurna.

Namun, tahukah hujan yang terindah? Yaitu hujan turun saat diri ini ingin menangis..

[biarkan, biarlah aku tenggelam dalam hujan sejenak..]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s