ini adalah percakapan antara dua orang, yang satu merasa tidak bahagia dengan kehidupannya saat ini, dan satu lagi sedang menggapai gapai kebahagiaannya. percakapan bukan lanjutan tentang teori kebahagiaan, tapi hanyalah mempertegas, kalau untuk bahagia itupun suatu pilihan.
“Menikah tanpa cinta, bukankah lebih bahagia?”
“Ko bisa?”
“Yaa, karena tuntutannya tidak ada, atau setidaknya minimalis. Nggak perlu ada rasa cemburu, kesal karena kurang perhatian, atau kurang romantis, atau dan lain-lainnya, itu hal simpelnya aja sih..”
“hmm, mungkin kalo dikatakan bahagia kurang tepat, tapi mungkin tidak akan menderita aja, tapi lebih tepat lagi hampa..katanya begitu..”
“oh, gitu yah..tapi seandainya kemudian hadir sosok seseorang yang dicintai, sepertinya bisa menderita juga deh, iyah kan?”
“heuheuhe..iyah ya, ah lieur!”
“so, is it happier??!!!”
[yaa, semua pilihan memiliki dua sisi mata koin, mungkin]








